Selasa, 26 Desember 2017

Tradisi Peta Kapanca Daerah Bima



Peta kapanca adalah salah satu tradisi yang ada di daerah Bima. Peta kapanca biasa dilakukan oleh calon mempelai wanita sebelum berlangsungnya akad nikah dengan bertempat di kediaman calon pengantin wanita. Upacara peta kapanca sudah dikenal sejak agama islam masuk ke tanah Bima. Tradisi peta kapaca merupakan tradisi turun temurun masyarakat Bima.
Pada pelaksanaannya diiringi oleh pembacaan zikir dan shalawat nabi. Sebelum acara peta kapanca dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan acara sangoho atau mandi air uap dengan bunga-bunga, acara boho oi mbau atau siraman serta acara cafi ra hambu maru kai atau meneta dan merias kamar pengantin. Upacara peta kapanca biasa dilaksanakan pada malam hari dan dihadiri oleh ibu-ibu, pihak keluarga, kerabat dan tetangga keluarga yang berhajat serta para tokoh dan panutan masyarakat.
Calon mempelai wanita akan dirias  terlebih dahulu agar terliat indah dan cantik. Peta kapanca dilakukan dengan meletakkan lumatan daun pancar ke telapak tangan calon pengantin wanita. Jumlah ibu-ibu yang bergiliran meletakkan lumatan daun pancar harus ganjil. Biasanya tujuh atau sembilan orang yang diiringi dengan zikir yang bermaksud memberikan restu dan doa agar kelak calon mempelai wanita mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian dalam rumah tangga sehingga menjadi pasangan yang abadi sampai akhir hayat mereka. Dengan adanya tanda merah di telapak tangan, menunjukkan sang gadis akan dimiliki seseorang. Karena setelah acara peta kapanca selesai, maka keesokkan harinya akan dilaksanakan akad nikah.
Upacara peta kapanca juga dimaksudkan untuk memberi contoh pada gadis lainnya agar mengikuti jejak pengantin wanita yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang istri. Sehingga mereka dapat mengambil hikmah dalam mengakhiri masa lajang mereka kelak. Dalam hal ini tergambar adanya rangkaian telur yang dihias dengan bunga bunga yang pada saatnya nanti akan diperuntukkan kepada ibu-ibu undangan yang masih memiliki anak gadis. Telur tersebut akan dimakan oleh anak gadisnya sedangkan rangkaian bunga akan dijadikan hiasan pada kamarnya. Itulah sebabnya upacara peta kapanca menjadi dambaan para ibu masyarakat Bima, dimana mengharapkan putri mereka segera melewati upacara adat peta kapanca  yang menandakan hari kebahagiaan mereka.  

32 komentar:

  1. informasi yang sangat menarik untuk dibaca, terima kasih ilmunya semoga bermanfaat

    BalasHapus
  2. Berarti setiap ada orang yang mau menikah, tradisi peta kapanca itu selalu dilakukan?

    BalasHapus
  3. Berarti setiap ada orang yang mau menikah, tradisi peta kapanca itu selalu dilakukan?

    BalasHapus
  4. Luar biasa, saya sangat kagum. seperti di insia yh kaya verstival mahendi org india. tpi kita orang bima nama tradisinya adalah peta kapanca. luar biasa dan tradisi ini masih sangat kental di masyarakat Bima.

    BalasHapus
  5. Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk yang belum mengetahui ..

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. terima kasih,semoga bermanfaat untuk kita yang ingin lebih mengenal tradisi bangsa sendiri

      Hapus
  7. Balasan
    1. terima kasih, semoga dapat menambah wawasan kita tentang tradisi

      Hapus
  8. Super sekali, thanks udh berbagi pengetahuan

    BalasHapus
  9. Budaya bima memang sangat bagus dan menarik untuk dipelajari..semoga bermanfaat

    BalasHapus
  10. Ritual yang menghargai seorang wanita.

    BalasHapus
  11. Ternyata daerah bima juga kaya akan tradisi2 yg bagus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, sudah pasti.terimaksih sudah menyempatkan diri untuk membaca

      Hapus
  12. Apa di jaman sekarang ini tradisi itu masih ada???

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya,sampai sekarang tradisi ini masih dilaksanakan oleh masyarakat bima

      Hapus
  13. Terus kestarikan tradisinya saudriku.semangat..

    BalasHapus
  14. Apapun tradisi didaerah kita pasti mempunyai makna dan tujuan yg baik. Terimakasih, semangat untuk melestrikan budaya..

    BalasHapus