Piagam gumi sasak merupakan pernyataan sikap
yang didasari oleh sebagian besar masyarakat sasak tentang identitas
kebudayaan. Dan hal tersebut sangat wajar di tengah kepungan dunia yang semakin
terbuka dan tanpa batas. Tentunya identitas dari kelompok atau tiap orang akan
mudah terpengaruh dari manapun dikarenakan tidak ada lagi perbatasan antar
Negara karena memang sudah tidak ada batasan lagi. Dengan keadaan yang hampir
tidak ada batasan yang secara nyata membuat identitas sasak itu menjadi seperti
yang dulu.
Budaya sasak yang dulu sangat penting karena
berdirinya sebuah bangsa tidak dengan sekejap mata tetapi melalui proses
cultural, pemikiran, perkembangan tekhnologi, dan ilmu pengetahuan sehingga
sudah melalui proses pemurnian. Jika proses kemurnian tersebut yang membuat
kita menjadi beradab, tidak saling menghina satu sama lain serta tidak
mengambil hak orang lain, maka peradaban itu adalah peradaban yang tinggi dan
harus dibanggakan.
Kita harus hidup teratur dan itu merupakan
nilai pada prinsipnya. Dan tradisionalitas merupakan kemurnian yang berprinsip yaitu
yang benar akan tetap benar, yang baik akan tetap baik, dan yang buruk pasti
akan buruk. Jika identitas kita goyang maka akan terjadi pergeseran nilai dalam
penilaian terhadap baik buruknya sesuatu. Dan pergeseran itulah yang berbahaya
dan sangat dikhawatirkan.
Sehingga para intelektual baik yang muda,
senior, dan tokoh-tokoh masyarakat terus berpikir dan kemudian mencoba mencari
rumusan tentang bagaimana rasa kegundahan yang belum terartikulasikan dan tidak
pernah dinyatakan dalam lisan, sehingga mereka berkumpul dan ingin menyatakan
sikap. Bahwa berkeinginan untuk kembali pada nilai dasar yang diajarkan oleh
leluhur dan maju serta sejahtera dengan nilai nilai tersebut. Jadi tidak
berarti dengan mundur atau kembali kemasa lalu kita tidak akan sejatera. Bahwa
nilai tersebut kelampauan pandangannya tidak moderen, maka nilai tersebut harus
dibawa keranah moderen juga. Contohnya sebuah kejujuran, baik ranahnya moderen
atau tidak, itu sangat penting. Kemudian aqidah, maupun aqidah tersebut berada
di dunia yang semoderen apapun, itu adalah hal yang sangat penting. Jadi tidak
bisa dibatasi hanya untuk hal-hal yang lampau. Hal-hal kedepannya juga harus
membawa nilai nilai.
Disitulah dinyatakan dalam sikap, bagaimana
kita menyikapi persolan ini, bagaimana budaya sasak berada pada dirinya sendiri
yaitu auto kritik untuk semua orang sasak, dan itu berhubungan dengan orang
diluar sasak dan kemudian diranah internasional yang dimana 25 tahun atau satu
abad kedepan sasak menjadi peradaban dunia. Tentang bagaimana mengambil peran,
sikap tanpa kehilangan identitas.
PIAGAM
GUMI SASAK
Isi piagam gumi sasak yaitu :
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Menjadi
bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT
dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan
matarantai sejarah kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam
pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan
tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang
sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai sebuah bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:
Pertama:
Berjuang bersama menggali dan menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua:
Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat:
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima:
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai sebuah bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:
Pertama:
Berjuang bersama menggali dan menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua:
Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat:
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima:
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga
Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan Bangsa
Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulut
Tahun Jenawat / 1437 H
26 Desember 2015
tokoh-tokoh
yang menandatandatangani “piagam gumi
sasak” adalah:
1.
Drs.lalu Azhar.
2.
Drs. Haji Lalu Mujtahid.
3.
Drs. Haji Husni Mu’adz MA., ph.D.
4.
Drs
Lalu Baiq Windia M.Si.
5.
Dr. H.
L., Agus fathurrrahman.
6.
Dr.
Muhammad Fajri, M.A.
7.
Dr. Jamaludin, M.Ag.
8.
Dr. Lalu Abd. Kholik, M. Hum.
9.
TGH. Ahyar Abduh.
10.
Mundzirin.
11.
Dr. H. Sudiman M. pd.
12.
Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Hum.
13.
L. Ari Irawan, SE., S. Pd.,M. pd.
serta masih banyak pencetus lainnya yang
berperan penting dalam penyusunan “piagam gumi sasak”
nasumber: Lalu Ari Irawan, SE., S.Pd. M.Pd. (Direktur Rowot Sasak Nusantara )



